Kaku Mahu : My First Expedition
Jihan Syafira - Jinong
Namlea, 23 April 2025
| Pengalungan Kain Lestari dan Tari Sawat Buru |
Hari ini adalah momen awal dari implementasi perencanaan yang telah kami susun selama beberapa bulan di Bandung—mulai dari lokasi menginap, perbekalan, peralatan, hingga operasional pemanjatan. Kami langsung bergerak menyiapkan layout tempat, susunan acara, akomodasi, dan berbagai hal teknis lainnya hingga larut malam. Akibatnya, keesokan harinya kami bangun agak terlambat.
Acara diawali dengan penyambutan berupa tarian Sawat Buru, tarian selamat datang khas daerah ini, diikuti dengan pengalungan kain Lestari. Kain Lestari atau lastare merupakan simbol budaya yang mengandung banyak nilai dan makna kearifan lokal masyarakat Pulau Buru. Secara umum, lastare dikenal sebagai busana adat berupa kain ikat kepala yang dikhususkan bagi kaum laki-laki. Dalam kepercayaan masyarakat Buru—“soa porua geram pa”—laki-laki adalah pelindung dan penjaga, sehingga penggunaan lastare menegaskan eksistensi mereka sebagai pemimpin. Uniknya, lastare juga digunakan sebagai simbol komunikasi—untuk menjembatani hubungan baik antar kepala suku, antara anak dan orang tua, serta antar sesama keluarga.
Acara
resmi dibuka oleh Rektor Universitas Iqra Buru dan perwakilan dari PJ Bupati
Buru. Tidak lupa kami mengundang instansi-instansi yang telah mendukung
kegiatan ini. Ini merupakan rangkaian kedua setelah pelepasan di Pendopo Wali
Kota Bandung. Selain memohon kelancaran, kami juga berharap silaturahmi dan
kolaborasi dalam kegiatan serupa dapat terus berlanjut.
Namlea, 24 April 2025
Pagi ini, kami berkumpul dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju Desa Nanali menggunakan truk milik Basarnas. Kami berangkat dari Universitas Iqra Buru dengan personel dan barang bawaan yang cukup banyak.
Kondisi jalan dari Namlea ke Teluk Bara tergolong baik karena sudah sepenuhnya beraspal. Namun, setelah melewati Teluk Bara, jalan mulai berbatu dan berlumpur, menyebabkan mobil beberapa kali harus berhenti. Ketika kami tiba di Desa Wae Ruba, perjalanan kembali terhambat. Selain karena jalurnya licin dan sempit, truk Basarnas yang cukup besar mengharuskan kami sedikit melebarkan jalan agar bisa lewat.
Di jalur ini terdapat dua opsi: pertama, jalan sempit dan berlumpur yang biasa digunakan warga; kedua, genangan air setinggi paha orang dewasa. Kami sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan. Dua alternatif yang tersedia adalah menunggu angkutan umum dari Namlea atau menggunakan perahu dari Teluk Bara. Saat kami mempertimbangkan pilihan yang ada, sopir truk mencoba melewati genangan air. Dengan keyakinan penuh, truk berhasil melintasinya dengan aman. Kami pun lega karena masih bisa melanjutkan perjalanan.
| Kondisi Jalan Menuju Desa Nanali |
| Melewati Beberapa Sungai Besar Tanpa Jembatan |
Sesampainya
di Desa Nanali, kami disambut suasana yang hidup: banyak anak-anak bermain di
sekitar Kantor Syahbandar (Pelabuhan Penumpang Nanali–Fogi), tempat kami
menginap. Ada yang bermain bola, ada pula yang berenang di laut. Sebagai bentuk
perkenalan dengan warga desa, kami ikut bermain bola bersama anak-anak dan
mulai membaur dengan mereka. Selama sebelum memulai Operasional, anak-anak tersebut
setiap malam selalu menghampiri kami untuk belajar bersama. Mereka menyebut
kami Bapak dan Ibu Guru.
| Bermain Bersama Anak-anak Desa Nanali |
| Belajar Bersama Anak-anak Desa Nanali |
Nanali, 25 April 2025
Pelaksanaan acara syukuran dimulai pukul 16.00 WIT. Acara digelar secara sederhana: doa bersama dan pengalungan kain adat. Jika kemarin di Namlea kami menerima Kain Lestari, maka di Nanali kain tersebut disebut Kain Leleja. Masing-masing memiliki makna yang khas.
Kain
Leleja adalah kain tenun asal Buton. Sebenarnya, penyebutan "Leleja"
digunakan untuk perempuan, sedangkan untuk laki-laki disebut
"Pidongko". Leja Lum (berwarna hijau lumut) memiliki motif
garis-garis dengan warna dasar hijau, perpaduan hitam, dan benang perak (mpea
mopute), dan biasa dipakai oleh kaum perempuan. Sementara itu, Pidongko
Katambagawu bermotif kotak-kotak dengan warna dasar biru, dilengkapi aksen
hitam dan putih, digunakan oleh kaum laki-laki.
Kain tenun
ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh dari panas atau dingin,
tetapi juga sebagai representasi dari pengalaman hidup yang ingin dikenang. Ia
menjadi perekat sosial antar masyarakat, di mana pun mereka berada. Tenun Buton
juga diyakini sebagai bentuk identitas diri.
Aku
memperhatikan betapa berbeda budaya mereka. Para bapak-bapak duduk melingkar,
sementara ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan dan minuman. Sebelum doa dimulai,
kami disuguhi sepiring dadar gulung (isi 3–4 buah) dan segelas teh manis
hangat. Setelah camilan, kami menyantap makanan berat berupa ketupat, mie
goreng, ikan, dan kasuami. Barulah setelah itu doa bersama dilaksanakan.
Menurut penjelasan dari Sekretaris Desa Nanali, ada sejumlah pantangan yang diyakini warga terkait Gunung Kepala Madan. Beberapa di antaranya: hanya orang Muslim yang diperbolehkan naik, pendaki harus berwudu terlebih dahulu sebelum memulai, dan perempuan tidak diperkenankan naik ke gunung tersebut.
Fakta itu membuatku cukup terkejut. Bagaimana tidak? Aku satu-satunya perempuan dalam tim ini, dan juga termasuk tim pemanjat yang pastinya harus naik ke Gunung Kepala Madan. Rasanya cukup stres mendengar larangan yang tidak mungkin kami langgar begitu saja, mengingat itu adalah aturan adat warga Desa Nanali.
Nanali, 26 April 2025
Siang itu, kami fokus pada persiapan perbekalan dan peralatan. Kami memang mengalokasikan satu hari khusus untuk melakukan packing. Namun, muncul kendala karena kami belum juga mendapatkan warga lokal yang bersedia menjadi porter untuk membawa barang-barang kami. Padahal, sehari sebelumnya mereka sempat menyanggupi, tetapi kemudian membatalkan karena adanya pesta atau hajatan di desa.
Komandan Operasi kami, Ismail, bersama seorang warga lokal bernama Kakak Madhin, sibuk mencari solusi agar porter tetap bisa didapatkan hari itu juga. Setelah hampir seharian berusaha, akhirnya terkumpul enam orang porter. Meski begitu, mereka hanya sanggup mengantar hingga Camp 1.
Saat malam
tiba, tantangan lain muncul. Bukan karena kekurangan porter, tetapi karena
beban logistik dalam carrier masing-masing melebihi kemampuan bawa dari
personelnya sendiri. Akhirnya, kami mengubah skema pergerakan.
Rencana
baru: esok hari kami tetap bergerak menuju Camp 1, membawa sebagian logistik
dan peralatan pemanjatan. Setelah itu, sebagian dari kami akan kembali ke desa
untuk mengambil sisanya, sementara dua orang tinggal di Camp 1 untuk menjaga
barang-barang.
Nanali, 27 April 2025
Pagi ini
cuaca cerah dari pagi hingga sore. Kami mulai bergerak menuju Camp 1 untuk
mendorong logistik pemanjatan serta sebagian perbekalan. Perjalanan dimulai
pukul 09.00 WIT dan kami tiba di Camp 1 sekitar pukul 14.00 WIT. Lima jam
perjalanan kami tempuh dengan jarak sekitar 9 km. Masih tersisa 5 km lagi
menuju bibir tebing Kaku Mahu, dengan medan yang lebih menantang menunggu di
depan.
Jalur dari desa menuju Camp 1 cukup menanjak dan sebagian besar tertutup, hanya berupa jalur sempit yang biasa digunakan oleh pemburu lokal. Kami didampingi oleh satu warga lokal yang terbiasa berburu hingga ke kaki tebing, bersama empat anjing gagahnya yang unik—bernama Nagarahwana, Kalo 1, Kalo 2, dan Wiro Sableng.
Seperti biasa, pergelangan kaki kiriku yang belum pulih sepenuhnya mulai terasa nyeri. Lima jam pertama masih bisa kuatasi, namun rasa sakit mulai muncul ketika kami melewati jalur yang menurun. Medan yang kami lalui sangat bervariasi—mulai dari jalan logging, area kebun, jalur berbatu, hingga tanah liat yang licin.
Kami menyadari bahwa akan ada banyak perjalanan bolak-balik untuk membawa semua logistik. Walau melelahkan, ini adalah cara paling efisien agar semua peralatan dan perbekalan bisa sampai ke Camp 1 dan selanjutnya ke bibir tebing.
Namun,
kekhawatiran mulai muncul karena jumlah porter terbatas, sementara logistik
yang harus dibawa masih sangat banyak. Kami mencoba menghubungi rekan-rekan
Mapala Universitas Iqra Buru, dan bersyukur sekali—ada tambahan tiga orang yang
bersedia menyusul dan membantu membawa kekurangan logistik kami.
Kawasan Gunung Kaku
Mahu, 28 April 2025
Hari ini adalah hari pertama operasional Gunung Hutan. Setelah kemarin kami bolak-balik mendorong logistik dari Desa Nanali, hari ini kami naik lagi dengan membawa logistik seberat kira-kira 25–31 kg.
Karena sehari sebelumnya kami sangat memforsir pergerakan, hari ini sebagian besar dari kami merasa ngaplek atau ripuh. Selama perjalanan, aku hanya ditemani carrier-ku. Barisanku pas di tengah-tengah rombongan: yang di depan sudah jauh, yang di belakang pun sama. Jadi mau tidak mau, aku harus tetap jalan tanpa bisa menunggu barisan paling belakang.
Untungnya, aku punya tim yang super duper solid. Di pertigaan jalan sebelum masuk area logging, sudah ada yang menungguku untuk bergantian membawakan ranselku. Big thanks buat Kaka Kibo (Maqrapala) yang bersedia gantian bawa ranselku. Salut!
Setibanya di camp, baru terasa capeknya. Aku langsung gelar matras. Awalnya cuma mau meluruskan badan, eh ternyata malah ketiduran. Dan itu... definisi tidur ternikmat!
Setelah
tim paling belakang tiba, kami lanjut beres-beres area camp agar nyaman untuk
ditinggali. Camp 1 ini masih terasa cukup hangat, mungkin karena lokasinya
masih dekat dengan laut.
Camp 1, 29 April 2025
pukul 09.00, kami mulai pergerakan menuju Camp 2. Katanya, jaraknya “hanya” 5 km. Ya, memang cuma 5 km—tapi medannya? Nanjak dan ekstrem. Berat ransel yang kubawa diperkirakan sekitar 25 kg. Dengan energi yang sudah terkuras selama dua hari berturut-turut, ditambah jalur menanjak tanpa henti, badanku mulai memberikan sinyal penolakan. Seolah berkata "cukup, jangan dipaksa lagi".
Dan hari
itu, jadi momen pertama aku menangis selama berkegiatan, Gunung Hutan khususnya.
Rasa lelah, overthinking, dan kabar dari tim depan bahwa dari titikku sekarang masih sangat
jauh dari Camp 2—semuanya menumpuk dan meledak jadi air mata.
Di beberapa bagian jalur, lagi-lagi Kaka Kibo bolak-balik membantuku membawakan ransel. Medannya memang nggak main-main: scrambling, kanan-kiri jurang. Jalur itu sebenarnya tak terlalu panjang lagi menuju Camp 2, tapi karena kondisi fisik dan mental sudah drop, setiap langkah rasanya berat.
Kami
memulai perjalanan pukul 09.00. Tim pertama sampai di Camp 2 sekitar pukul
17.00, disusul tim kedua (termasuk aku) pukul 18.30. Kami menamai tempat ini Camp
Lemon, karena ada pohon lemon tumbuh tepat di area camp.
| Camp 2 (Camp Lemon) |
Dalam
perjalanan, kami mendapat kabar bahwa Pak La Sady—yang berada di tim
pertama—berhasil mendapatkan seekor rusa muda sekitar 200 meter sebelum camp.
Dan benar saja, saat kami melewati titik itu, kami melihat rusa yang sudah
dipotong. Yang tersisa hanya kepala dan jeroannya.
Waktu
makan malam tiba, api unggun menyala hangat. Kami duduk berkumpul di sekeliling
api, menghangatkan tubuh, sekaligus menikmati hasil buruan Pak La Sady. Dan itu
adalah first time in my life makan daging rusa. Rasanya mirip daging
sapi, tapi lebih ringan dan agak manis. Selama empat hari ke depan, menu
makanan kami selalu mengandung berbagai olahan daging rusa. Mewah sekali
rasanya, di tengah belantara
Camp 2, 30 April 2025
Seperti
biasanya, aku bangun pukul 06.00. Hari ini tugasku adalah mendokumentasikan
kegiatan di basecamp, sementara teman-teman lain melakukan survei jalur
pemanjatan.
Tapi pagi ini terasa berbeda. Badan rasanya berat, tidak enak. Tiba-tiba mual, lalu muntah. Aku akhirnya memutuskan untuk istirahat saja di hammock. Tertidur tanpa terasa, tahu-tahu hari sudah sore dan tim survei jalur sudah kembali ke basecamp.
Aku memaksakan diri untuk bangun dan bergabung di sekitar api unggun. Tapi udara makin dingin. Aku kembali berbaring, kali ini dengan selimut, dan akhirnya tertidur lagi. Aku baru terbangun saat sesi evaluasi dan briefing dimulai. Teman-temanku sangat perhatian. Mereka membuatkan air hangat dan makan malam untukku, meski akhirnya hanya sedikit yang bisa kumakan. Malam itu terasa sangat panjang. Tidur, terbangun, tidur lagi, dan terbangun lagi—ternyata belum juga pagi. Begitu terus.
Sampai
akhirnya aku mendengar suara seseorang berkata, “Pin, masak nasi.” Oh God,
akhirnya... pagi datang juga.
Camp 2-Lemon, 1 Mei 2025
Hari ini
aku benar-benar off dari semua aktivitas. Bangun hanya untuk makan,
minum obat, lalu tidur lagi—berulang seperti itu seharian. Badan masih belum
pulih sepenuhnya, jadi aku memilih untuk benar-benar istirahat.
Pergerakan
tim hari ini dibagi menjadi tiga:
- Tim 1: Ismail, Hasbie, Roni, dan Pak La Sadi kembali lagi menyurvei jalur pemanjatan yang sama seperti sebelumnya. Padahal menurutku pribadi, survei itu sudah cukup. Jalurnya terlalu ekstrem, tidak ada sumber air terdekat, dan rasanya tidak mungkin bisa untuk mendorong logistik sejauh itu dengan beban berat dan medan extrem.
- Tim 2: Arifin, Yusriandi, Adit, dan
Ramadan turun ke bawah untuk mengambil logistik yang sebelumnya sudah
didorong dari Camp 1.
- Tim 3: Bagas dan Jihan. Bagas standby
di basecamp
Saat tim survei kembali ke camp, kami berkumpul untuk rembukan hasil survei. Medan yang ditemukan benar-benar tidak ideal: batuan lepas yang tajam, tertutup lumut licin, tanpa akses air sama sekali. Dan dengan pertimbangan pendorongan logistik yang berat dan risiko yang tinggi, akhirnya Danops, dengan persetujuan dari tim, memutuskan untuk pindah jalur pemanjatan ke dinding sebelah selatan.
Namun,
bukan hanya kondisi teknis yang jadi bahan diskusi hari ini. Mereka juga
menceritakan pengalaman yang cukup menggetarkan, terutama yang dialami Pak La
Sadi saat survei.
Tim survei sempat terbagi dua untuk mencari jalur alternatif. Di tengah pencarian, Pak La Sadi tiba-tiba memanggil Kang Hasbie dan memintanya untuk tidak melanjutkan perjalanan. Katanya, “Saya takut. Saya lihat iblis, matanya merah.” Tanpa pikir panjang, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke titik terakhir sebelum tim berpencar.
Setelah semua tim kembali dan berkumpul di titik itu, Ismail, Hasbie, dan Roni melanjutkan survei, sementara Pak La Sadi tinggal di tempat. Ketika mereka kembali, mereka melihat Pak La Sadi telah membuat sebuah lingkaran dari rotan, menyerupai hula hoop, lalu memasukkan badan ke dalamnya. Menurut kepercayaan warga lokal, itu adalah ritual tolak bala untuk menjaga diri dari hal-hal tak kasat mata yang bisa mengganggu di wilayah yang dianggap keramat.
Kabar dan kondisi jalur hari ini membuatku
teringat pada pesan Pak Sekdes saat upacara adat beberapa waktu lalu di Kantor
Pelabuhan Fogi–Nanali. Ia berkata:
“Tidak ada
yang bisa melewati Kepala. Kalau sudah berhasil mencapai pundak, jangan
berharap ke yang lebih tinggi.”
Masyarakat
setempat percaya bahwa Kaku Mahu adalah “pundak” dari Gunung Kepala Madan. Dan
mungkin, kami memang sedang berada di batas yang tidak semua orang diizinkan
untuk lewati.
Camp 2-Lemon, 02 Mei 2025
Pagi ini,
kondisi tubuhku mulai membaik. Demam mulai turun, meski masih tersisa sakit
kepala, batuk, dan sesak. Satu paket penyakit yang, sayangnya, juga dialami
Jihan. Tidak hanya kepala yang nyeri, tapi sekujur tubuh pun terasa
sakit—seperti ditusuk-tusuk.
Namun, kabar baiknya: setelah kemarin tim survei menjajaki jalur alternatif, kami akhirnya bisa mengambil keputusan penting. Jalur pemanjatan dipastikan akan dilakukan dalam waktu dekat—sekitar 3 hingga 4 hari operasional, termasuk alokasi waktu untuk tim peneliti dalam pengambilan sampel flora.
Jalur yang
dipilih adalah tebing yang tampak jelas dari depan Camp Lemon—menjulang, tegas,
dan seolah memanggil. Jalur itu mungkin belum dijamah siapapun sebelumnya.
Terlihat Tebing Menjulang dari Camp 2
Camp rusa, 05 Mei 2025
Tak terasa, sudah seminggu kami berada di GH (Gunung Hutan). Mungkin banyak yang bertanya-tanya, “Apa saja yang kalian lakukan selama berhari-hari di dalam hutan? Nggak bosan?”dan jawaban kami selalu otomatis: tidak. Kami tidak bosan, karena selalu ada saja yang dikerjakan.
Salah
satunya adalah membangun kerajaan. Istilah kami untuk menciptakan kenyamanan di
tengah hutan. Membuat kursi dari batang kayu, merakit meja, bahkan menyusun
alas tidur agar lebih empuk. Rasanya seperti menata rumah sendiri. Karena kami
sadar, dua minggu di hutan bukan waktu yang singkat. Jadi sebisa mungkin,
tempat istirahat harus nyaman.
Hari ini, aku mulai bergerak menuju Camp Rusa, karena kondisi tubuhku sudah jauh membaik dibanding hari-hari sebelumnya. Kami berangkat pukul 10.00 dari Camp 2 – Lemon, dan tiba di Camp Rusa sekitar pukul 11.00–11.30. Medan dari Camp Lemon ke Camp Rusa masih berupa jalur tanah khas hutan pegunungan. Tapi mendekati Camp Rusa, ada “topping”: bebatuan tajam, sebagian diselimuti lumut, dan banyak di antaranya adalah batu lepas. Harus benar-benar hati-hati.
First
impression saat
tiba di Camp Rusa: dingin, tapi hangat. Hujan turun, tapi entah kenapa badanku
bisa menyesuaikan. Di sini, semua tidur menggantung pakai hammock, karena
kondisi tanahnya penuh batu, jadi tidak memungkinkan untuk beralaskan matras di
bawah.
Untuk
mencapai titik air terdekat, harus turun sekitar 30 menit. Tapi untungnya,
setiap hari di Camp Rusa selalu diguyur hujan. Kami mulai menampung air dari plastik
packing dan flysheet—setidaknya cukup untuk keperluan masak dan minum. Lumayan,
menghemat tenaga daripada harus turun naik ambil air.
Camp rusa, 07 Mei 2025
Hari ini aku mulai ascending-an, dan seperti biasa, ikut mengangkut logistik bersama Roni ke pitch 2. Cuaca saat itu berkabut dan lumayan dingin—tipikal suasana lembab pegunungan yang mulai masuk ke zona ketinggian.
| Ascending dan Hauling logistik |
Dari ground, kami tidak bisa langsung menuju pitch 1 secara direct karena tali hauling yang tersedia hanya sepanjang 50 meter. Sedangkan jarak dari ground ke pitch 1 lebih dari itu. Akhirnya, kami menyiasatinya dengan sistem hauling dua tahap: pertama sekitar 25 meter, lalu lanjut ke pitch 1 setelah logistik naik separuh jalan.
Kami sampai di pitch 1 tepat waktu makan siang. Jadi, kami istirahat dulu dan makan: menu hari ini adalah nasi instan + Eatnow Soto Betawi. Rasanya? Cukup jadi penghibur setelah hauling—hangat, gurih, dan bikin semangat lanjut.
Setelah
istirahat sebentar, kami lanjut naik ke pitch 2. Di sana kami disambut oleh
Babeh Arifin yang memang sudah standby lebih dulu di pitch tersebut. Tak lama
setelah kami tiba, Babeh langsung mendorong logistik lagi menuju pitch 6,
tempat sebagian tim lainnya stay untuk membuka jalur menuju top.
Malamnya,
saat briefing, disampaikan bahwa esok pagi akan ada pergerakan naik menuju top
wall. Awalnya direncanakan tiga orang: Jihan, Arifin, dan Roni yang akan ascending.
Tapi akhirnya ada perubahan skema—yang naik hanya Jihan dan Arifin. Kami mulai
bergerak besok pagi pukul 06.00.
Pitch 2, 08 Mei 2025
Pagi ini, kami memulai ascendingan menuju top. Aku jadi orang pertama yang bergerak dari pitch 2, mulai naik sekitar pukul 06.30 pagi, lengkap membawa peralatan pribadi seperti air minum dan bekal makan siang.
Dari pitch
2 ke pitch 3, jalur melewati celah batu yang cukup sempit. Lumayan tricky—ascending-an
di antara celah sempit selalu bikin waswas. Tapi, oke... lolos.
Lanjut dari pitch 3 ke pitch 4, mulai masuk ke area yang lebih terbuka (face), dengan batuan yang lancip dan tajam. Dari pitch 4 sampai pitch 6, banyak ditemukan teras-terasan lebar, tapi bebatuannya makin tajam dan banyak batu lepas—harus ekstra hati-hati.
Setelah sampai di pitch 6, jalur menuju pitch 7 mulai berubah jadi scrambling, tidak terlalu panjang, mungkin kurang dari 50 meter. Sampai di pitch 7, jalur menuju top sudah tampak. Tapi di sinilah titik krusialnya—karena sisanya ditempuh dengan berjalan kaki tanpa peralatan, di jalur sempit, terbuka, dan penuh risiko.
Aku masih
berjalan beberapa meter... lalu tiba-tiba, hatiku enggan melanjutkan. Tidak ada
halangan teknis, tapi tubuhku mendadak berhenti. Aku terduduk. Diam. Dan ya...
menangis lagi. Perasaanku campur aduk. Antara ingin melanjutkan dan tidak
sanggup. Kang Hasbie turun menghampiri, mencoba membujukku untuk terus jalan.
Tapi hatiku tetap menolak. Akhirnya, daripada diam terlalu lama di jalur
terbuka, aku diantar turun kembali ke pitch 6.
Di sana
aku menunggu, sambil memanaskan makan siang untuk mereka yang sedang di atas.
Hening. Sunyi. Hanya ada aku, suara serangga, dan sesuatu yang tak terlihat.
Aku duduk, merenung, dan... menangis lagi. Teringat pada salah satu ayat dalam
Al-Qur’an tentang kemustahilan—dan saat itu emosiku tidak stabil. Aku
sedang berusaha menerima apa yang baru saja terjadi.
| Puncak Kaku Mahu |
Saat kami mulai turun, cuaca mulai berubah. Langit mendung pekat. Kami segera mengenakan jas hujan sebelum rappelling. Benar saja—sampai di pitch 4, hujan turun dengan deras sekali. Rasanya seperti canyoning, kami rappelling di bawah guyuran air dari atas tebing. Suasananya mencekam—tebing curam, tubuh basah, dan suara hujan yang membungkam.
Akhirnya kami tiba di pitch 2, saat hujan mulai reda. Di antara pitch 2 dan 3, kami langsung melihat portaledge... pintunya terbuka. “Gawat, belum ditutup!” Dan benar saja, bagian dalamnya sudah basah—nyaris seperti kolam. Aku cepat-cepat turun untuk menutupnya.
Sayangnya,
aku tidak membawa pakaian ganti di perlengkapan pribadi. Jadi aku putuskan
langsung turun ke ground, dan mengabari tim yang standby di Camp Rusa untuk
menjemputku di ground.
Camp rusa – Camp 2 Lemon, 09 Mei 2025
Pagi ini,
beberapa personil dari Camp Rusa mulai turun lebih dulu menuju Camp 2
– Lemon. Aku bersama Yusriandi termasuk yang turun lebih awal. Kami
ditugaskan untuk menyiapkan skenario dokumentasi produk sponsor, sementara tim
lainnya masih standby di Camp Rusa, menunggu tim pemanjat yang sedang melakukan
cleaning jalur pemanjatan.
Seharian, kami menunggu kabar dari atas. Sementara itu, Kaku Mahu kembali diguyur hujan berkali-kali—tipikal cuaca yang berubah cepat, dan lembab. Tapi semangat teman-teman di atas tidak luntur sedikit pun. Mereka tetap fokus menuntaskan proses cleaning—tugas krusial sekaligus mendebarkan, mengamankan jalur yang telah dipanjat dari batuan lepas dan risiko bahaya lainnya.
Menjelang sore, akhirnya kabar baik datang: jalur berhasil clean. Tahap pemanjatan benar-benar ditutup secara resmi hari ini. Namun perjuangan mereka belum selesai. Setelah menyelesaikan cleaning, mereka masih harus melanjutkan perjalanan turun ke Camp 2.
Langit
sudah mulai gelap. Kabut dan sisa hujan menambah berat langkah mereka. Tapi
mereka memutuskan untuk tetap bergerak turun malam itu juga. Sebuah keputusan
yang tidak mudah, tapi mencerminkan semangat dan solidaritas tim—untuk menyatu
kembali di Camp Lemon.
Camp 2-Lemon, 10 Mei 2025
Setelah hari-hari panjang yang melelahkan, hari ini diputuskan sebagai waktu untuk recovery aktif di Camp 2 – Lemon. Kondisi fisik anggota tim sudah terkuras, jadi kami mengambil hari ini untuk benar-benar beristirahat.
Aktivitas dilakukan secara ringan dan bertahap. Ada yang mulai packing perlengkapan, checklist peralatan pribadi dan tim, ada juga yang memanfaatkan waktu untuk mencuci baju sekalian mandi—mumpung hujan turun seharian, pasti air melimpah.
Cuaca hari ini benar-benar cocok untuk istirahat: hujan yang nyaris tak berhenti dari pagi hingga malam. Kabut tipis, udara dingin, dan aroma tanah basah menenangkan, seolah alam juga ikut menyuruh kami untuk berhenti sejenak.
Tapi rasa
bosan tentu tetap datang. Maka, seperti biasa, kreativitas muncul dari
kebosanan. Beberapa dari kami akhirnya memutuskan untuk bermain Ludo King. Tapi
ini bukan Ludo biasa—kami modifikasi jadi versi ekspedisi: yang pionnya
kembali ke rumah, wajahnya dicoret pakai magnesium. Dan yang kalah... harus
push-up. Tidak penting siapa menang atau kalah, yang penting adalah: tawa
pecah, hangat di tengah dinginnya hari.
Camp 2-Lemon - Desa, 11 Mei 2025
Hari ini, sesuai dengan kesepakatan tim, kami mulai perjalanan pulang menuju Desa Nanali. Meski jalur pulang menurun, beban yang kami bawa tetap berat—masih lengkap dengan logistik dan peralatan teknis. Ditambah lagi, ada dua carrier tambahan yang harus digotong secara bergantian, menggunakan sebatang kayu besar sebagai penyangga.
Medan
turunan ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Di salah satu lembahan yang
penuh batu dan lumut, hujan turun cukup deras. Jalur pun menjadi licin dan
berbahaya. Beberapa kali kami terpeleset dan terjatuh, membentur batuan tajam.
Rasanya seperti “ujian terakhir” sebelum benar-benar keluar dari hutan.
Setelah
berjalan sekitar 7–8 jam, kami akhirnya tiba di Camp 1. Di saat yang tepat,
sebuah mobil milik perusahaan lewat. Untungnya, sebelumnya kami sudah
menghubungi sopir dan meminta nomor teleponnya, jadi keberadaan mobil ini
memang sudah diantisipasi.
Ransel-ransel berat kami segera dimuat ke dalam mobil tersebut, dan empat personil ikut menumpang ke desa. Sisanya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Tepat pukul 17.00, seluruh tim akhirnya tiba dengan selamat di Desa Nanali. Suasana di desa menyambut kami hangat: ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak menyapa dengan senyum lebar. Setelah hari-hari panjang di rimba Kaku Mahu, kehadiran mereka seperti oase.
Tak lama,
rekan-rekan dari komunitas pecinta alam Pulau Buru juga mulai berdatangan.
Mereka akan mengikuti kegiatan coaching clinic yang menjadi bagian dari
rangkaian ekspedisi ini.
Kami telah
kembali. Tubuh lelah, hati penuh.
Desa Nanali, 12-15 Mei 2025
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian operasional Gunung Hutan dan pemanjatan di Kaku Mahu, kami melanjutkan kegiatan seperti yang telah direncanakan: coaching clinic bersama rekan-rekan penggiat alam dari Pulau Buru.
Tanggal 12
Mei, kegiatan diawali dengan membersihkan seluruh peralatan—baik peralatan
pribadi maupun tim—sekaligus pengecekan logistik sisa ekspedisi. Setelah itu,
kami masuk ke sesi pemberian materi mengenai panjat tebing, teknik dasar, dan
pengenalan alat. Kegiatan dibagi dua kelompok: sebagian tim fokus memberikan
materi, sementara tim lainnya melakukan survei lokasi ke tebing yang akan
digunakan untuk latihan bersama.
| Pematerian mengenai Panjat Tebing & Pengenalan Alat |
Tanggal 14–15 Mei, kegiatan berlanjut ke sesi praktik lapangan—kami melakukan pemanjatan dan latihan bersama peserta coaching clinic, langsung di tebing yang telah disurvei. Tebing ini kami beri nama Tebing Jin, karena letaknya berdekatan dengan Sungai Jin. Lokasinya cukup strategis dan bisa diakses melalui dua jalur: jalur darat (dengan motor atau berjalan kaki), atau jalur laut menggunakan Johnson (perahu bermesin).
Kegiatan
coaching clinic ini bukan hanya penutup dari ekspedisi, tapi juga sebuah
warisan kecil—sebuah benih agar semangat eksplorasi, keselamatan, dan
pelestarian alam tetap tumbuh di kalangan generasi pecinta alam lokal.
Desa Nanali - Namlea, 16 Mei 2025
Setelah seluruh rangkaian kegiatan—dari pendakian, pemanjatan, hingga coaching clinic—usai, hari ini kami bersiap untuk kembali ke Namlea. Truk milik Basarnas Namlea kembali datang menjemput kami di Desa Nanali, sebagai pengantar perjalanan pulang kami dari ekspedisi yang tak terlupakan ini.
Sekitar pukul 12.00 WIT, kami berangkat. Namun, tak semudah yang dibayangkan. Sebelum berangkat, hujan deras mengguyur wilayah sekitar dan menyebabkan aliran Sungai Wae Hotong meluap. Air naik cukup tinggi, arus deras menghantam dasar sungai dan membawa gelondongan kayu besar hanyut terbawa arus. Kondisi ini membuat kendaraan tak bisa langsung melintas—arus terlalu kuat dan terlalu dalam.
Kami
akhirnya menunggu di tepi sungai, menanti debit air menurun. Setelah sekitar
satu jam, arus mulai melambat, dan permukaan air surut cukup signifikan hingga
truk bisa melintas dengan aman.
Perjalanan
kembali pun dilanjutkan. Dari balik jendela truk, kami menyaksikan panorama
Pulau Buru dengan perasaan berbeda—ada rasa lega, lelah, bahagia, dan haru yang
menyatu dalam diam. Sekitar pukul 18.00, kami tiba di Namlea, tepatnya di rumah
Kak Aco, salah satu anggota Mapala dari Universitas Iqra Buru. Keluarga Kak Aco
menyambut kami dengan hangat dan ramah, membuat suasana rumah terasa begitu
nyaman setelah berhari-hari hidup di dalam hutan, di atas tebing, dan di balik
kabut Kaku Mahu. Hari ini menjadi momen transisi dari kehidupan ekspedisi
kembali ke dunia sehari-hari. Badan boleh lelah, tapi hati terasa penuh.
Namlea, 17-18 Mei 2025
Pagi ini kami mulai berbenah—packing semua peralatan yang akan dikirim melalui kargo ke Bandung, merapikan perlengkapan pribadi, dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Di sela-sela itu, kami menyempatkan waktu untuk membeli oleh-oleh khas Buru, buah tangan yang ingin kami bawa pulang, bukan hanya sebagai kenangan, tapi juga sebagai bentuk cinta untuk mereka yang menanti kami di rumah.
Keesokan
harinya, sebelum benar-benar berpisah, kami diajak oleh keluarga Kak Aco dan
teman-temannya untuk menikmati sore di Pantai Jikumerasa. Angin laut menyapa
lembut, matahari perlahan turun ke cakrawala, dan suasana sore itu terasa
begitu hangat. Di balik canda dan tawa, kami tahu—waktu kami di Pulau Buru
benar-benar tinggal sebentar lagi.
Malamnya, kami berkumpul di rumah. Suasana berubah menjadi haru. Kami berpamitan. Tidak semua bisa menahan air mata. Dalam pelukan hangat dan genggaman tangan erat, kami menangis—karena sedih harus meninggalkan orang-orang baik yang sudah menerima kami seperti keluarga sendiri.
Sesampainya di Pelabuhan, suasana itu masih terus terbawa. Salah satu
kawan kami yang sejak tadi mencoba menahan tangis akhirnya tak bisa lagi
menyembunyikannya. Air matanya pecah saat kapal mulai bersiap meninggalkan
dermaga. Kami tahu, di balik kesedihan ini, ada rasa syukur yang begitu besar
karena kami pernah berada di sini, bersama orang-orang luar biasa, di tanah
yang tak biasa.
Namlea – Ambon, 19-20 Mei 2025
Pukul 05.00 pagi, kapal akhirnya bersandar di Ambon. Setelah menginjakkan kaki kembali di kota ini, kami dijemput oleh Basarnas Ambon dan langsung diarahkan menuju Kantor SAR. Di sana, kami melakukan recovery aktif—beristirahat, membersihkan diri, dan merapikan perlengkapan, sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang sebelumnya sudah kami pesan.
Hari berjalan perlahan. Kami duduk berjejer di teras kantor SAR, sebagian berbincang, sebagian diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Wajah-wajah kami letih, tapi ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Perjalanan besar ini hampir benar-benar usai.
Esok paginya, 20 Mei 2025, kami take off dari Ambon menuju Jakarta, membawa ransel, oleh-oleh, cerita, dan kenangan yang tak akan bisa dikemas dalam koper. Dari Jakarta, perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil menuju Sekretariat Wanadri di Bandung—tempat di mana semuanya berawal.
Ekspedisi
ini adalah tentang banyak hal: batas fisik dan batin, pertarungan dengan ego
dan emosi, serta kebersamaan yang ditempa oleh hutan, tebing, dan badai. Kaku
Mahu bukan hanya dinding batu, tapi juga cermin yang memperlihatkan siapa kita
sebenarnya.
Terima
kasih Pulau Buru. Terima kasih Kepala Madan.
Tapi
sebagian hati kami tinggal di sana.
Kami
pulang.
Semoga
kami bisa kembali lagi. Entah kapan, entah bagaimana—tapi kami akan selalu
mengingatnya.
| Foto bersama Tim Kaku Mahu |
Komentar
Posting Komentar